Minggu, Juni 05, 2011

My Birthday Wish :)

Ya Allah,
Hari ini aku dalam kekhusukan dan keihlasan dihadapan hamparan rezekimu...

Ya Allah,
Kau ciptakan aku dari tiada, menjadi ada...
Kemudian kau kembalikan aku kepadamu,...

Ya Allah,
Kehidupanku bejalan dan berputar sesuai dengan kehendakmu

Ya Allah,
Hari ini telah sampai usia ku dalam kedewasaan, jadikanlah aku menjadi khusuk dan tawaduk dalam menerimah hikmah dan berkahmu
bertambah usia dalam hitungaku, berkurang pula usiaku dalam hitunganmu..

Ya Allah,
Panjangkanlah usiaku agar aku dapat hidup dan menjadi bermanfaat bagi ummatmu yang lain
Panjangkanlah usiaku agar aku dapat lebih memandang hidup dengan penuh makna dalam kebesaranmu
Panjangkanlah usiaku agar aku dapat lebih bersyukur atas nikmat dan rezeki yang Engkau anugerahkan kepadaku.

Ya Allah,
Jadikanlah aku termasuk ke dalam orang-orang yang senantiasa bersyukur terhadap rezeki dan anugrah yang Engkau berikan

Ya Allah,
Terimakasih Engkau telah mengangkat aku menjadi makhluk dengan derajat yang tinggi

Terimakasih engkau telah memberikan Cahaya Keimanan kepada kami agar kami dapat mengenalmu,

Terima Kasih Ya Allah…Ya Rabbi…...

Saturday, 4th June 2011

Rabu, Mei 25, 2011

Doaku

ya Allah,

semoga Kau menganugerahi kekuatan yang lebih,

buat ku hari ini, esok hari dan hari-hari seterusnya.

saat ini, tak ada yang aku perlu,

selain dari Rahmat Mu, sebagai pelindung untuk aku menghadapi derasnya dan kejamnya dunia ini.


ya Allah,

tetapkan hati ku,

cabut dan lempar jauh kesedihan yang ku rasa saat ini,

kerana tanpa Rahmat Mu,

aku tidak berdaya untuk mengharungi hatta satu malam.


ya ALLAh,

bantu aku menambah iman dan taqwa pada Mu,

tiadalah upaya jika aku dibiarkan sendirian untuk mengharunginya..


ya Allah,

aku percaya akan perancangan Mu untuk ku,

maka dengan itu, aku minta petunjuk dan hidayah Mu,

agar aku diberikan ketenangan jiwa..

tetapkan hati ku sujud pada Mu, dan hindarkan aku dari kesakitan yang melalaikan aku dari sisi Mu.

Senin, Mei 23, 2011

Membaca Waktu

Aku akan menerjemahkan alam
Tentang senja yang begitu manja
Butir-butir awan yang berputar
Lukisan langit yang kian memudar
Terus merajut waktu
Kian menyatu
Putih akan menjadi hitam
Malam….

4 juni 1992 aku lahir, kini dunianya baru.
aku tidak bisa mengingat semuanya, dan cepat cepat mencoba mengingatnya.

Beberapa bulan orangtuaku ingin cepat aku belajar.
Mereka ajarkan aku berdiri, duduk, senyum, tertawa, jalan, berlari.

Beberapa tahun mereka ingin aku cepat belajar.
Mereka daftarkan aku sekolah, mengaji, bermain sepeda.

Mereka ingin aku cepat belajar.
Bagaimana mencari teman, sahabat dan cinta.

Dan dengan cepat aku belajar.
Bagaimana bisa aku belajar, bersenang senang, dan bermimpi.

Rupa rupanya cepat sekali waktu berjalan.
dari kecil sampai sekarang aku terus belajar.
untuk tidak mensia siakan waktu, bahwa banyak sekali yang dapat kita lakukan.

Sekarang aku belajar, bagaimana memaknai hidup.
seperti yang mereka ajarkan.

Mama.. Bapak.. tak akan kusiakan 4 tahun ku disini.
Menuntut ILMU :)

Congratulations to the Imagine Cup 2011 Worldwide Finalists!

IT Telkom kembali mengukir prestasi, setelah Tim Gatotkaca terbang ke New York Juli nanti untuk mewakili Indonesia dalam Imagine Cup 2011 Software Design Worldwide Final, Tim dreamBender berhasil merebut runner-up Imagine Cup 2011 Kategori Windows 7 Touch Challenge.
GO GO IT TELKOM GO!!!

Minggu, Mei 22, 2011

Kata kata Mutiara Nabi Muhammad SAW

He is not strong and powerful who throw the people down; but he is strong who keep himself from anger .
Orang yg kuat bukanlah orang yg mampu menjatuhkan/berkelahi dgn org tetapi orang yang kuat adalah orang yg mampu menahan amarahnya.
The world is a magician greater than Harut and Marut, and you should avoid it.
Dunia adl penyihir yg lebih hebat dari Harut dan Marut dan kamu harus menghindarinya.
The ink of the scholar is more sacred than the blood of the martyr
Tinta para pelajar lebih suci daripada darah orang2 yg mati syahid
The world and all things in it are valuable; but the most valuable thing in the world is a virtuous woman
Dunia dan segala sesuatu di dalamnya sangat berharga, tetapi hal yang paling berharga di dunia adalah perempuan baik-baik.
Remember God in prosperity, and He will remember you in adversity
Ingatlah Tuhan dalam kemakmuran, dan Dia akan mengingat Anda dalam kesulitan
One hour's meditation on the work of the Creator is better than seventy years of prayer
Satu jam meditasi pada karya Sang Pencipta adalah lebih baik daripada tujuh puluh tahun doa
Love of the world is the root of all evil
Cinta pada dunia adalah akar dr sgla kejahatan
Be in the world like a traveler, or like a passer on, and reckon yourself as of the dead
Jadilah di dunia seperti seorang petualang/ musafir, dan menghitung diri Anda sebagai orang mati
Four things support the world: the learning of the wise, the justice of the great, the prayers of the good, and the valor of the brave
Empat hal yang mendukung dunia: belajar dari orang bijak, keadilan besar, doa-doa yang baik, dan keberanian yang berani
Whoever loveth to meet God, God loveth to meet him
Siapa pun yang menyukai untuk bertemu Allah, Allah menyukai untuk bertemu dengannya
Seek knowledge from the cradle to the grave
Mencari pengetahuan dari buaian sampai ke liang kubur
Law is a fort on a hill that armies cannot take or floods wash away
Hukum adalah sebuah benteng di sebuah bukit bahwa pasukan tidak dapat mengambil atau banjir membasuh
The most excellent jihad (struggle) is that for the conquest of self
Jihad yang paling baik (perjuangan) adalah bahwa untuk penaklukan diri
Do not say, that if the people do good to us, we will do good to them; and if the people oppress us, we will oppress them; but determine that if people do you good, you will do good to them; and if they oppress you, you will not oppress them
Jangan katakan, bahwa jika orang-orang yang berbuat baik kepada kami, kami akan berbuat baik kepada mereka; dan jika orang-orang yang menindas kami, kami akan menekan mereka, tetapi menentukan bahwa jika orang yang Anda baik, Anda akan berbuat baik kepada mereka; dan jika mereka menindas Anda, Anda tidak akan menindas mereka
Heaven liveth at the feet of mothers
Surga ada di telapak kaki ibu
He who know his own self, know the God
Dia yang mengetahui dirinya sendiri, maka dia mengenal Tuhan
Philosophy is the stray camel of the faithful; take hold of it wherever ye come across it
Filsafat adalah unta tersesat dari setia memegang di mana pun kamu datang di atasnya
He who leaveth home in search of knowledge, walketh in the path of God
Dia yang keluar rumah dgn tjuan mencari ilmu, mka dia berada di jalan Allah
Do you love your creator? Love your fellow-beings first
Apa kamu mencintai penciptamu? Cintai dlu sesamamu..
He will not enter hell who hath faith equal to a mustard seed in his heart; and he will not enter Paradise who hath a single grain of pride, equal to a mustard seed, in his heart
Dia tidak akan masuk neraka yang telah iman sama dengan biji sawi di dalam hatinya dan ia tidak akan masuk surga yang telah sebutir kesombongan, sama dengan biji sawi, di dalam hatinya
Whoever is humble to men for God's sake, may God exalt his eminence
Siapa pun yang rendah hati kepada manusia demi Tuhan, semoga Allah memuliakan kebesaran-Nya

This life is but a tillage for the next, do good that you may reap there; for striving is the ordinance of God and whatever God hath ordained can only be attained by striving
Hidup ini tapi tanah yg dikerjakan berikutnya, berbuat baik bahwa Anda mungkin menuai sana; untuk berjuang adalah ketetapan dari Allah dan apa pun yang telah ditetapkan Allah hanya dapat dicapai dengan berjuang
Verily your deeds will be brought back to you, as if you yourself were the creator of your own punishment
Sesungguhnya perbuatan Anda akan dibawa kembali kepada Anda, seolah-olah Anda sendiri adalah pencipta hukuman Anda sendiri
Women are the twin halves of men
Wanita adalah belahan kembar laki-laki
He is the most perfect Muslim whose disposition is best; and the best of you are they who behave best to their wives
Dia adalah muslim yang paling sempurna disposisi adalah yang terbaik dan yang terbaik di antara kalian adalah mereka yang berperilaku terbaik untuk istri-istri mereka
Give the laborer his wage before his perspiration be dry
Berikan upah pekerja sebelum keringat menjadi kering
The faithful do not die; perhaps they become translated from this perishable world to the world of eternal existences
Orang beriman tidak mati; mungkin mereka menjadi diterjemahkan dari dunia fana ini kepada dunia keberadaan abadi
The greatest crimes are to associate another with God, to vex your father and mother, to murder your own species, to commit suicide, and to swear to lie
Kejahatan terbesar adalah untuk menyekutukan lain dengan Allah, durhaka pada ayah dan ibu Anda, untuk membunuh saudaramu, untuk bunuh diri, dan bersumpah dengan niat berbohong
Shall I not inform you of a better act than fasting, alms, and prayers? Making peace between one another: enmity and malice tear up heavenly rewards by the roots
Apakah aku tidak memberitahu Anda tentang tindakan yang lebih baik daripada puasa, sedekah, dan doa? Membuat perdamaian antara satu sama lain: permusuhan dan kebencian merobek penghargaan surgawi ke akar-akarnya
All actions are judged by the motive prompting them
Semua tindakan dinilai oleh motif yg mendorong mereka

Kamis, April 07, 2011

Anak Ayam Belajar Terbang

Assalamualaikum.
Setelah sekian lama ga buka blog akhirnya posting jugaaa \(^^)/

akhir akhir ini aku ngerasa banyak kemunduran dalam prestasi dan kepribadianku.
nilai nilai kuliahku semakin tidak memuaskan. (T.T) entahlah. seberapa besar aku berusaha nilai yang kudapat tidak sesuai dengan yang ku harapkan.
(aku yakin itu semua pasti dialami setiap mahasiswa tahun pertama)

Aku bahkan setiap tidur menghitung apa aja kesalahan kesalahan yang ku lakukan dihari itu.
berapa kali aku berbohong, berapa kali aku tak menepati janji, berapa kali aku berbuat yang salah.
tak jarang hal itu membuat air mataku mengalir dengan sendirinya.

Ya Allah, Semua insan manusia dimuka bumi ini pasti akan mengalami kegagalan. Ga terlepas dari rasa khilaf kita sendiri. Tapi aku yakin semua itu sifatnya cuma sementara.

Anehnya semua kata kata motivasi dari orang lain tidak bisa mengubah keadaan ku sendiri.
Ya. Hanya Aku yang bisa memotivasi diriku sendiri.
Ketika kita mengalami 'keterpurukan' dalam hidup ingatlah bahwa Allah bersama kita.
bahwa, usaha kita belum cukup.
bahwa masih banyak batu loncatan yang harus dilalui.
Dia menegur kita bahwa kita belum cukup berjuang bahkan belum cukup mensyukuri apa yang kita dapat.

Seperti Anak Ayam yang Masih belajar Terbang.

Ah, kenapa sih, mengeluh, mengeluh, dan mengeluh mulu?
Kenapa sih, menggunjing, menggunjing, dan menggunjing orang mulu?
Kenapa sih, marah, marah, dan marah mulu?

Kenapa sih, nggak berusaha aja, daripada mengeluh?
Kenapa sih, nggak berkaca dulu sebelum menggunjing orang?
Kenapa sih, nggak tersenyum dengan sabar aja, daripada marah?

Hei, anak ayam kecil! Sadarilah...

Bahwa satu keluhan yang kamu lontarkan,
akan menghapus satu keberuntungan yang seharusnya menjadi milikmu.

Bahwa menggunjing orang,
akan merusak citramu di mata masyarakat.

Bahwa tersenyum adalah ibadah,
dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
(Innallaha ma'ashobirin)

Hei! Renungkanlah...

Orang-orang yang sukses,
adalah mereka yang senantiasa berusaha dan tidak punya waktu untuk mengeluh.

Orang-orang yang cerdas akal-budi,
adalah mereka yang senantiasa berkaca hingga lupa untuk menggunjing sesamanya.

Dan orang-orang yang cantik/tampan,
adalah mereka yang senantiasa tersenyum sabar meski mereka mampu untuk meluapkan amarah.

Dialog Dalam Mimpi


Malam ini, seperti malam-malam lainnya, kami menapaki jalan sempit yang biasa kami lewati untuk shalat Isya’ berjamaah di masjid. Lumayan jauh memang. Tapi kami begitu menikmatinya. Selain ampunan di setiap langkahnya, kami begitu menikmati cahaya bintang-bintang yang terhampar di langit malam. Sepanjang jalan yang biasa kami lewati itu masih jauh dari keramaian kota, masih jauh dari benderang lampu jalan maupun lampu lainnya yang dapat mereduksi cahaya bintang yang jatuh ke retina mata kami. Sehingga, gugusan-gugusan bintang itu begitu jelas. Cahayanya terasa begitu dekat.

Entah apa yang sedang dipikirkan oleh sobatku ini. Matanya menerawang ke atas, menatap bintang-bintang di langit malam. Wajahnya tampak serius. Tapi bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Sungguh aku tak dapat menerka apa yang ada di pikirannya sekarang.

“Apa yang sedang kau pikirkan, Di?”

“Aku sedang berdialog dengan bintang-bintang itu.”, jawab Hadi singkat.

“Hmmm… menarik. Apa yang barusan kalian bicarakan?”, tanyaku penasaran.

“Aku bertanya kepada salah satu bintang di sana, ‘Wahai bintang, apakah kau menjumpai mimpiku?’ Dengan ramah bintang itu menjawab, ‘Maaf, kami tak menjumpainya, tapi kami tau keberadaannya. Jauh lebih tinggi dari tempat kami berada dan jauh lebih bercahaya daripada cahaya yang kami pancarkan.”

Itulah Hadi. Sahabat yang sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Ia bukan orang gila yang mengajak bintang berbicara. Imajinasinya lah yang mengajaknya berdialog pada sekitarnya. Imajinasi kami lah yang menciptakan keindahan tersendiri dalam setiap interaksi kami.

“Lalu, apa mimpimu itu?”, lanjutku.

“Terlalu banyak mimpiku itu. Seperti banyaknya gugusan bintang yang sedang kita lihat sekarang. Tak mungkin aku menyebutkannya satu per satu.”

“Kalau begitu, bisakah kau jelaskan satu saja mimpimu itu?”

Hadi agak lama terdiam. Tampaknya memang banyak mimpi di kepalanya. Tapi ia hanya terdiam beberapa detik. Setelah itu ia memetik salah satu mimpinya, dan mengatakan, “Seorang penulis.”

“Apa yang membuatmu berpikir untuk menjadi seorang penulis?”, tanyaku penasaran.

“Sungguh, menulis adalah pekerjaan besar yang dilakukan oleh orang-orang besar. Orang-orang yang memiliki kekuatan hati, jiwa, ruh, dan akal. Kekuatan untuk mengalirkan hasil sinergi dari cerapan indra, memori, dan imajinasi menuju ke ujung-ujung jari. Lalu membentuk sinergi kata-kata yang memiliki kekuatan. Kekuatan kata yg tersusun apik. Kekuatan yang mampu menyatukan hati, meledakkan potensi, bahkan mampu merusak sinergi.

Karena itu, Tuhan mengamanahkan setiap kata-kata-Nya pada insan terbaik dan generasi terbaik. Karena itu, pena-pena inspirasi dititipkan pada insan yang berhati lembut. Karena itu, tinta ilmu dititipkan pada insan berjiwa tangguh. Karena itu, lembar sejarah dititipkan pada insan pemilik ruh nan kokoh.”

“Lalu?”, aku semakin tertarik dengan penjelasannya.

“Sungguh, tinta inspirasi yang tertoreh oleh pena ilmu akan selalu dinikmati jiwa, hati, dan ruh setiap insan yg berfikir. Lalu setiap manfaat dan makna yang ada pada setiap huruf yang merangkai sebuah kata lalu membentuk kalimat-kalimat itu akan menjadi amal jariyah yang tak henti alirannya. Mereka akan menjadi penolong pada hari dimana jiwa, hati, dan ruh menjadi saksi. Saksi yang tak terbantahkan.”

Adzan Isya’ terdengar. Cukup sampai di situ dulu dialog mimpi kami. Kami lalu bersegera, mempercepat langkah agar tidak tertinggal keutamaan shalat berjama’ah di masjid di awal waktu.

Dalam perjalanan usai shalat, kami melanjutkan lagi dialog mimpi tadi. Aku begitu penasaran dengan mimpi-mimpinya yang lain. Hadi membeberkan beberapa mimpinya. Mulai dari menjadi guru, pengusaha, gubernur, dan anggota legislatif. Bahkan, jika seandainya bangsa ini diserang orang asing yang mencaplok tanah air kami, ia akan menjadi tentara terdepan, yang hanya punya dua pilihan untuknya, apakah meraih gemilang kemenangan, ataukah menjemput syahid kematian.

“Guru adalah pekerjaan besar yang akan melahirkan orang-orang besar. Setiap ilmu yang bermanfaat darinya lah yang akan menginspirasi lahirnya penulis-penulis besar, jutawan besar, pejabat besar, pemimpin besar. Perjuangannya itu akan menjadi jariyah, yang tentunya tak henti mengalir. Perjuangannya itu akan menghadirkan saksi-saksi yang tak terbantahkan atas ilmu bermanfaat yang telah dialirkannya.” Itulah mimpinya untuk menjadi seorang guru.

“Sebagian besar dari sahabat-sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga adalah para pedagang. Transaksi mereka di dunia jelas mencerminkan kemandirian finansial, menghidupkan perekonomian ummat, menjadi perantara rizki bagi sebagian lain yang butuh penghidupan. Lalu, transaksi di akhirat juga terlaku dengan menginfakkan hartanya di jalan Allah yang mulia.” Itulah latar belakang mimpinya untuk bertransaksi sebagai seorang entrepreneur.

“Tentu dibutuhkan pemimpin yang kuat dan bijaksana untuk memimpin bangsa yang kokoh dan sejahtera. Tentu dibutuhkan kekuatan dan kewibawaan legislasi dari para pengambil kebijakan yang lurus untuk menciptakan sistem kenegaraan yang ideal bagi bangsanya.” Itulah gambaran alasan mimpinya sebagai pemimimpin bangsa.

“Jelas, ketika kesempatan itu dihadirkan, aku akan menyambutnya dengan sukacita dan kebanggan sebagai tentara Allah. Karena aku akan melihat dengan jelas gerbang-gerbang surga yang tebuka di setiap titik di medan juang. Karena aku akan melihat mata bidadari nan jeli dan merasakan ajakannya di setiap kilau mata pedang dan desing peluru.” Itulah mimpi setiap muslim yang terindah. Mimpi untuk berjuang membela agama dan tanah air dan menjemput seni kematian yang paling indah.

Sungguh indah sebagian mimpi-mimpi itu. jujur saja, dialog mimpi kami malam itu begitu menginspirasi arah dan orientasi mimpi yang harus kujemput di masa depan.

Lalu, imajinasiku juga mengajak bintang-bintang berdialog padaku. Sama seperti Hadi tadi, mataku menerawang ke atas, menatap bintang-bintang, dengan wajah yang tampak serius dan bibir menyunggingkan senyum tipis. Hadi pun tampaknya juga penasaran dengan apa yang sedang aku pikirkan.

“Di, aku juga berdialog dengan bintang”, ungkapku mencoba memancing rasa penasarannya..
“Benarkah? Maukah kau menceritakannya padaku?”, tanya Hadi penasaran.

“Bintang-bintang di langit tersenyum simpul kepadaku, sembari berkata, ‘Memang benar mimpimu jauh lebih tinggi dari keberadaan kami, jauh lebih benderang dari cahaya kami.. Tapi sayapmu terlalu lemah terkepak. Kuatkanlah. Kokohkanlah. Bentangkan selebar-lebarnya!”

Mata Hadi seketika bertambah cerah. Ia sangat sepakat dengan pernyataanku tadi.

“Benar juga! Percuma memiliki mimpi-mimpi itu tanpa adanya usaha terbaik untuk menjemputnya.”

Lalu aku melanjutkan, “Hakikatnya, manusia diberi sayap nan tangguh berupa potensi.. Dan sungguh, bukanlah sayap yang membuat kita terbang mengangkasa. Tapi kepakannya lah yang membuat kita terbang menggapai mimpi.”

“Ya.. benar adanya. Potensi-potensi yang masih statis tanpa gerak amal tentu tak akan menghasilkan apa-apa. Tak akan mampu menjemput mimpi-mimpi kita.”

***

Entah mengapa, air mata membasahi beberapa helai bulu mataku ketika mengingat dialog mimpi kami itu. Dialog tentang mimpi Hadi dan mimpiku. Dialog yang menerbangkan mimpi kami setinggi-tingginya hingga jauh melebihi keberadaan bintang dan jauh lebih benderang daripada cahayanya. Dialog yang memaksa kami mengokohkan dan mengembangkan sayap-sayap potensi kami selebar-lebarnya. Lalu mengepakkannya sekuat-kuatnya.

Kami masih di awal perjalanan menuju mimpi-mimpi itu. Sekarang Hadi adalah seorang arsitek muda yang siap membangun peradaban. Dan aku, adalah dokter muda di rumah sakit ini. Itulah mimpi. Terkadang mimpi yang manusia rancang diterjemahkan Allah lewat jalan yang berbeda dari yang kita harapkan. Tapi jalan itu tentu lebih baik untuk sang pemimpi. Dan sekali lagi kutegaskan, kami masih di awal perjalanan menuju mimpi yang sebenarnya.

Tak seorang pun dari kami yang menjadi guru. Tapi hakikat seorang guru adalah seorang yang mengalirkan ilmunya. Paling tidak, kami sudah pernah menjadi pengajar di bimbel. Kami juga beberapa kali mengisi materi dauroh atau workshop. Dan sampai sekarang, kami tetap menjaga dan membina kelompok pengajian kecil di mushola atau kampus.

Di samping itu, kami sedang merintis bisnis kecil-kecilan, yaitu beberapa kios fotocopy kecil di sudut strategis kampus dan sekolah. Tampaknya Hadi juga akan membuat studio desain bersama beberapa teman arsiteknya. Itu jalan kecil kami untuk menjadi entrepreneur.

Beberapa tahun lagi, mungkin sepuluh atau belasan tahun lagi, dengan berbekal pengalaman organisasi kampus yang merupakan miniatur negara ini dan sedikit pengaruh pada tetangga maupun masyarakat sekitar, kami tentu akan berusaha mendaki karir politik. Aku hanya bisa tersenyum ketika membahas hal ini bersama Hadi.

Dan tentang mimpi menjemput seni kematian yang paling indah, kami hanya bisa berdo’a dan berharap untuk mendapatkannya. Seperti halnya manusia mengharapkan kehidupan yang terbaik, maka selayaknya lah ia mengharapkan kematian yang terbaik pula.

Di ruangan ini, di rumah sakit ini, sahabatku itu sedang menghadapi hal itu: menjemput kematian. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dokter yang sudah jauh lebih berpengalaman pun menyerah. Apalagi aku yang hanya dokter muda yang masih perlu banyak belajar. Mereka menyatakan bahwa Hadi hanya bisa bertahan malam ini saja. Lukanya terlalu parah. Sudah terlalu banyak pendarahan yang terjadi padanya sebelum dibawa ke rumah sakit ini. Beberapa tulang rusuknya patah. Dan benturan di kepalanya menyebabkan pendarahan yang fatal. Kecelakaan itu terjadi beberapa jam yang lalu. Begitu cepat terjadinya.

Aku menghela napas panjang. Sesak memenuhi rongga dada ketika melihat Hadi tersadar dan menyunggingkan senyum tipisnya kepadaku. Dari sayu tatapan matanya dan raut wajahnya, aku dapat menangkap kekecewaan yang teramat dalam baginya. Aku sangat mengenal sahabatku itu. Dari tatapan mata dan segurat senyumnya aku bisa mengerti isi hatinya. Aku paham bahwa ia sangat kecewa karena harus begini akhirnya. Padahal sayap potensinya baru sedikit terkepak. Padahal mimpinya masih banyak yang hendak diraih. Tapi ia tak sanggup bicara. Lalu air mata mengalir membasahi pipinya.

Aku memang tak mampu berbuat apa-apa lagi untuk menyelamatkan nyawanya. Tapi aku sadar aku harus melakukan yang terbaik untuk menuntunnya menjemput seni kematian yang paling indah. Tanpa adanya penyesalan.

Kucoba membendung air mata. Memaksakan tersenyum semanis mungkin.

“Sobat, masih ingatkah dengan dialog mimpi kita? Sangat banyak mimpi yang kita gantungkan ya.. Sangat tinggi keberadaannya melebihi bintang-bintang, dan sangat benderang melebihi cahaya mereka. Aku yakin kau tak akan lupa akan dialog mimpi kita.”

Hadi tak mampu berkata. Hanya matanya yang mampu mengisyaratkan bahwa ia takkan melupakan dialog mimpi kami itu. Air matanya tetap mengalir.

“Sobat, mimpi-mimpi yang kita bahas itu hanyalah mimpi kecil untuk meraih mimpi yang sebenarnya. Hanya mimpi-mimpi yang memperantarai mimpi terbesar kita. Kau pasti paham akan hal itu.”

“Ingatlah mimpi Shalahuddin Al-Ayyubi untuk membebaskan Jerussalem dari Tentara Salib. Ingatlah mimpi Muhammad Al-Fatih yang mencita-citakan penaklukan Konstantinopel. Sungguh, bukan hal mudah memjadi pemimpin negara, menghimpun dana, menyiapkan pasukan, dan segala sarana untuk meraih mimpi mereka itu. Tentu suatu jalan yang panjang dan sukar menjadi pemimpin yang dihormati dan ditaati rakyat maupun prajuritnya. Sungguh, dibutuhkan lebih dari sekedar entrepreneur di zaman itu itu menghimpun dana yang besar guna menyiapkan peralatan dan sarana tempur yang lengkap. Begitu sulitnya menghimpun, menyeleksi, dan mengawasi prajurit-prajurit terbaik Islam yang memiliki mimpi yang sama, gilang gemilang kemenangan atau syahid kematian. Shalahuddin selalu berpatroli ke tenda-tenda prajuritnya untuk mengecek shalat malam mereka. Ia khawatir kekalahan pasukannya akan berasal dari tenda yang prajuritnya yang tidak melakukan Qiyamulail. Sultan Al-Fatih bahkan menanyai seluruh prajuritnya tentang keseluruhan ibadah mereka, dari shalat ibadah fardhu hingga sunah. Karena, ia begitu terinspirasi dari sabda Rasullah yang menyatakan bahwa yang akan menaklukan Konstantinopel adalah sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik pasukan.”

“Begitu besar mimpi mereka. Begitu mulia mimpi mereka. Tapi mimpi itu hanyalah sarana untuk meraih mimpi yang sebenarnya. Ya…. mimpi seorang muslim tertinggi adalah ridho-Nya. Sehingga dengan ridho itu ia dapat berjumpa wajah Rabb-Nya, lalu melangkahkan kakinya ke Jannah-Nya. Dan untuk meraihnya, kita harus berusaha sekuat tenaga di kehidupan dunia hingga syahid menjemput kematian.”

Hadi terdiam. Air matanya berhenti mengalir. Wajahnya mulai dihiasi segurat senyum manis. Lalu matanya mengisyaratkan meminta aku terus bicara.

“Aku teringat akan mimpimu sebagai seorang penulis. Aku tahu kau selalu menulis buah pemikiranmu, baik itu di blog, artikel majalah dan koran, maupun melalui media-media lainnya. Tahukah dirimu, bahwa goresan pena inspirasimu itu selalu menginspirasiku? Dan aku yakin inspirasi itu juga menyentuh setiap jiwa, hati, dan ruh orang-orang yang membacanaya. Tenanglah sobat, setiap huruf yang kau tulis akan menjadi penolongmu. Akan menjadi aliran amal yang tak putus-putus. Setiap insan yang membacanya akan menjadi saksi untuk dirimu.”

“Aku juga punya rencana khusus untuk membantumu. Setiap inspirasi yang pernah kau tulis akan aku kumpulkan, semua yang pernah kau muat di berbagai media ataupun yang masih tersimpan di laptopmu. Dari dulu tak ada rahasia antara kita. Aku yakin password yang selalu kau pakai tak akan kau ubah. Tak sulit bagiku untuk menjelajahi isi laptopmu maupun blog dan emailmu. Dengan begitu, akan semakin banyak orang yang membaca tinta inspirasi yang pernah kau tulis. Akan semakin mengalir deras pula jariyah ilmu yang kau torehkan. Akan semakin banyak manusia yang akan menjadi saksi untuk dirimu di pengadilan Allah kelak. Aku yakin bukumu itu akan menjadi best seller. Kau setuju sobat?”

Senyum Hadi semakin mengembang. Tampaknya ia sangat setuju dengan bantuan ku itu. Aku dapat melihat jelas binar di matanya. Air matanya sudah berhenti mengalir.

Tapi sekarang aku yang tak mampu menahan air mata. Kupeluk dirinya erat-erat. Sambil sesenggukan aku berbisik padanya. Bisikan terakhir yang mengantarnya menjemput seni kematian yang paling indah.

“Sobat, alangkah curang dirimu. Kita membangun mimpi bersama. Kita merancangnya bersama. Kita berusaha bersama. Tapi dirimu mendahuluiku menjemput seni kematian yang paling indah. Tak diragukan lagi, dirimu mati di jalan-Nya. Aku tahu, kecelakaan itu terjadi saat kau sedang dalam perjalanan menyerukan dien-Nya.”

“Sobat, alangkah beruntungnya dirimu. Di saat aku harus berusaha sekuat tenaga mengepakkan sayap potensiku di dunia dengan semua mimpi yang ada, dirimu bersegera menerima panggilan Rabb-mu untuk memenuhi mimpi terbesarmu.”

Samar-samar, aku mendengarnya melantunkan ayat-ayat penutup surat Al-Fajr, “Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah. Irji’ii ilaa rabbiki radhiyyatmmardiyyah. Fad khuliy fii ‘ibadiy. Wad khuliy jannatiy,”

.Dalam dekapan pelukanku, aku dapat merasakan napas terakhirnya. Napas kerinduan yang teramat dalam untuk berjumpa Rabb-Nya.

Aku terdiam sesaat mentadaburi ayat-ayat terakhir yang dilantunkan Hadi tadi, “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang ridho dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.”


Diberdayakan oleh Blogger.

Recent Comments

Introduction

Recent Posts